Tuesday, October 7, 2014

Makalah Karakeristik dan Perbedaan Individu

Makalah Karakeristik dan Perbedaan Individu

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia adalah makhluk yang dapat dipandang dari berbagai sudut pandang, sejak ratusan tahun sebelum Isa, manusia telah menjadi salah satu objek filsafat, baik objek formal yang mempersoalkan hakikat manusia sebagai apa danya manusia dan dengan berbagai kondisinya. Sebagaimana dikenal adanya manusia sebagai makhluk yang berpikir atau homo sapiens, makhluk yang berbuat atau homo faber, makhluk yang dapat didik atau homo educandum, dan seterusnya merupakan pandangan-pandangan tentang manusia tersebut. berbagai pandangan tersebut membuktikan bahwa, manusia adalah makhluk yang kompleks.
Kini bangsa Indonesia telah menganut suatu pandangan, bahwa yang dimaksud manusia secara utuh adalah manusia sebagai pribadi yang merupakan pengejawantahan manunggalnya berbagai ciri atau karakter hakiki atau sifat kodrat manusia yang seimbang antar berbagai segi, yaitu antara segi : (i) individu dan sosial, (ii) jasmani dan rohani, dan (iii) dunia dan akhirat.
Uraian tentang manusia berkaitan dengan kedudukannya sebagai peserta didik, haruslah menempatkan manusia sebagai pribadi yang utuh. Dalam kaitannya dengan kepentingan pendidika, akan lebih ditekankan hakiki mansuia sebagai kesatuan sifat makhluk individu dan makhluk sosial, sebagai kesatuan jasmani dan rohani, dan sebagai makhluk Tuhan dengan menempatkan hidupnya di dunia sebagai persiapan kehidupannya di akhirat.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari individu?
2.      Bagaimanakah karakteristik individu?
3.      Apa sajakah perbedaan yang ada pada individu?
4.      Apa sajakah aspek-aspek yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan individu?

C.     Tujuan Penyusunan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah di atas dapat disimpulkan tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Menjelaskan definisi individu secara keseluruhan.
2.      Menjelaskan karakteristik masing-masing individu.
3.      Menjelaskan perbedaan yang ada pada individu.
4.      Menjelaskan aspek-aspek yang mempengaruh pertumbuhan dan perkembangan individu

D.    Manfaat Penyusunan Makalah
a.       Penyusun
Penyusun dapat berbagi ilmu, dan menambah wawasan kami tentang Karakteristik dan Perbedaan Individu serta pengertian-pengertiannya dan aplikasinya.
b.      Pembaca
Pembaca dapat meningkatkan wawasan  tentang Karakteristik dan Perbedaan Individu serta pengertian-pengertiannya dan aplikasinya.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Individu dan Karakteristiknya
1.      Pengertian Individu
Dalam kamus Echols & Shadaly (1975), individu adalah kata benda dari individual yang berarti orang, perseorangan dan oknum. Setiap orang, apakah ia seorang anak atau seorang orang dewasa dan apakah ia berada di dalam suatu kelompok atau seorang diri, ia disebut Individu. Individu menunjukkan kedudukan seorang sebagai orang-perorang atau perseorangan. Sifat individual adalah sifat yang berkaitan dengan orang-perorang, berkaitan dengan perseorangan.
Berdasarkan pengertian di atas dapat dibentuk suatu lingkungan untuk anak yang dapat merangsang perkembangan potensi-potensi yang dimilkinya dan akan membawa perubahan-perubahan apa saja yang diinginkan dalam kebiasaan dan sikap-sikapnya. Jadi anak dibantu oleh guru, orang tua dan orang dewasa lainnya untuk memanfaatkan kapasitas dan potensi yang dibawanya dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan.
2.      Karakteristik Individu
Setiap individu memiliki karakteristik bawaan (heredity) dan lingkungan (environment). Karakteristik bawaan merupakan karakter keturunan yang dibawa sejak lahir  baik yang berkaitan dengan faktor biologis maupun sosial psikologis. Kepribadian, perilaku, apa yang diperbuat, dipikirkan, dan dirasakan oleh seorang (individu) merupakan hasil dari perpaduan antara faktor biologis sebagaimana unsur bawaan dan pengaruh lingkungan.
Dikenali bahwa anak mulai masuk sekolah tidak tidak selalu sama umurnya. Mereka selalu menunjukkaan berbeda karakteristik pribadi dan kebiasaan-kebiasaan yang dibawanya ke sekolah, pada akhirnya terbentuk pengaruh lingkungan dan hal lain yang mempunyai pengaruh penting terhadap keberhasilannyadi sekolah, selanjutnya bagi masa depan kehidupannya.
Sejak pembuahan (konsepsi ) kehidupan yang baru itu secara berkesinambungan dipengaruhi oleh berbagai faktorlingkungan yang merangsang. Setiap rangsangan tersebut, baik secara terpisan atau terpadu dengan rangsangan yang lain semuanya membantu perkembangan potensi-potensi biologis demi terbentuknya perilaku maanusia yang dibawa sejak lahir. Hal tersebut pada gilirannya membentuk suatu pola karakteristik perilaku yang dapat mewujudkan seseorang sebagai individu yang berkarakteristik beda dengan individu – individu lain.

B.     Perbedaan Individu
Dalam aspek perkembangan individu, dikenal ada dua fakta yang menonjol, yaitu (i) semua diri manusia mempuyai unsur-unsur kesamaan didalam pola perkembangannya dan (ii) di dalam pola yang bersifat umum dari apa yang membentuk warisan manusia-secara biologis dan sosial tiap-tiap individu mempunyai kecenderungana berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut secara keseluruhan lebih banyak bersifat kuantitatif dan bukan kualitatif. Sejauh mana individu berbeda akan mewujudkan kualitas perbedaan mereka atau kombinasi-kombinasi dari berbagai unsur perbedaan tersebut.
Ciri dan sifat orang yang satu berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini disebut perbedaan individu atau perbedaan individual. Makna “perbedaan” dalam “perbedaan individual”  menurut Lindgreen (1980) menyangkut variasi yang terjadi, baik variasi pada aspek fisik maupun psikologis. Seorang ibu yang memiliki seorang bayi, bertutur bahwa bayinya banyak menangis, bergerak, dan kuat minum. Ibu lain yang juga memiliki seorang bayi, menceritakan bahwa bayinya  pendiam, banyak tidur, tetapi kuat minum. Cerita kedua ibu itu telah menunjukkan bhawa kedua bayi itu memiliki ciri dan sifat yang berbeda satu sama lainnya.
Seorang guru setiap tahun ajaran baru selalu menghadapi siswa yang berbeda satu sama lain. Siswa yang berada di dalam sebuah kelas, tidak terdapt seorangpun yang sama. Kemungkinan ada dua orrang kelihatannya jika diamati benar-benar antara keduanya tentu terdapat perbedaan. Perbedaan yang segera dapat dikenal oleh guru tentang siswanya adalah perbedaan fisiknya : seperti tinggi badan, bentuk badan, warna kulit, bentuk muka, dan semacamnya. Dari fisik, seorang guru cepat mengenal sisiwa di kelasnya satu persatu. Ciri lain yang segera dapat dikenal adalah tingkah laku masing-masing siswa, begitu pula suara mereka. Ada siswa yang lincah, banyak bergerak, pendiiam, dan sebagainya. Ada siswa yang nada suaranya kecil atau tinggi dan ada yang besar atau rendah, ada yang jika berbicara cepat dan dan ada pula yang pelan-pelan. Apabila ditelusuri secara cermat siswa yang satu dengan yang lain memiliki sifat-sifat psikis yang berbeda-beda.
Bidang-bidang Perbedaan
Garey (Oxendine, 1984) mengkategorikan perbedaan individual kedalam bidang-bidang berikut:
1.      Perbedaan fisik: usia, tinggi dan berat badan, jenis kelamin, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan bertindak.
2.      Perbedaan social termasuk status social ekonomi, agama hubungan keluarga dan suku.
3.      Perbedaan kepribadian: watak, motif, minat dan sikap.
4.      Perbedaan intelegensi dan kemampuan dasar.
5.      Perbedaan kecakapan atau kepandaian disekolah.
Perbedaan fisik bukan hanya terbatas pada cirri yang dapat di amati dengan panca indera kita, seperti tinggi badan, warna kulit, jenis kelamin, nada suara dan bau keringat, akan tetapi juga cirri lain yang dapat diketahui setelah diperoleh informasi atau di adakan pengukuran.  Usia, berat badan, kecepatan berlari, golongan darah, pendengaran, pengliahatan dan semacamnya  merupakan cirri-ciri yang tidak dapat diamati denga pengindraan.
Secara kodrati manusia memiliki potensi dasar yang secara esensial membedakan manusia dengan hewan, yaitu pikiran, perassan dan kehendak. Sekalipun demikian potensi dasar yang dimilikinya itu tidaklah sama bagi masing-masing manusia. Oleh karena itu sikap, minat, kemampuan berfikir, watak, perilakunya, serta hasil belajar manusia berbeda-beda.
Perbedaan-perbedaan tersebut berpengaruh terhadap perilaku mereka dirumah maupun disekolah. Gejala yang diamati adalah bahwa mereka menjadi lebih mampu dalam bidang seni atau bidang ekspresi lain, seperti olahraga dan keterampilan, sebagian lagi dapat lebih mampu dalam bidang kognitif atau yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
a.       Perbedaan kognitif
Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap orang memiliki persepsi tentang hasil pengamatan atau penyerapan atas suatu obyek. Berarti ia menguasai segala sesuatu yang diketahui, dalam arti pada dirinya terbentuk suatu persepsi, dan pengetahuan itu diorganisasikan secara sistematik untuk menjadi miliknya. Setiap saat, bila diperlukan pengetahuan yang dimilikinya itu dapat direproduksi. Banyak atau sedikit, tepat atau kurang tepat pengetahuan itu dapat dimiliki dan dapat diproduksi kembali merupakan tingkat kemampuan kognitif seseorang.
Kemampuan kognitif menggambarkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi tiap-tiap orang. Pada dasarnya kemampuan kognitif merupakan hasil belajar. Sebagaimana diketahui bahwa hasil belajar merupakan perpaduan antara factor pembawaan dengan factor lingkungan (factor dasar dan factor ajar). Factor dasar yang berpengaruh menonjol pada kemampuan kognitif ini adalah bakat dan kecerdasan (intelegensi).  Intelegensi sangat berpengauruh pada kemampuan kognitif seseorang. Dikatakan bahwa kecerdasan dan nilai kemampuan kognitif berkorelasi tinggi dan positif, semakin tinggi nilai kecerdasan seseorang semakin tinggi kemampuan kognitifnya.
b.      Perbedaan kecakapan bahasa
Bahasa merupakan salah satu kemampuan individu yang sangat penting dalam kehidupnnya. Kemampuan tiap individu dalam berbahasa berbeda-beda. Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan seseorang unntuk menyatakan buah pikirannya dalam bentuk ungkapan kata dan kalimat yang penuh makna, logis dan sistematis. Kemampuan berbahasa tersenut sangat dipengaruhi oleh factor kecerdasan dan lingkungan. Factor-faktor lain yang juga penting antara lain adalah fisik, terutama organ bicara.

c.       Perbedaan kecakapan motorik
      Kecakapan motorik merupakan kemampuan untuk melakukan koordinasi gerakan syaraf motorik yang dilakukan oleh syaraf pusat untuk melakukan kegiatan. Kegiatan-kegiatan tersebut terjadi karena kerja syaraf yang sistematis. Alat indera menerima rangsanga, rangsangan tersebut diteruskan melalui syaraf sensoris ke syaraf pusat (otak) untuk diolah, dan hasilnya dibawa oleh syaraf motorik uuntuk memberikan reaksi dalam bentuk gerakan-gerakan atau kegiatan. Dengan demikian ketetapan kerja syaraf akan menghasilkan suatu bentuk kegiatan tepat, dalam arti kesesuaian antara rangsangan dan responnya. Kerja ini akan menggambarkan tingkat kecakapan syaraf motorik.
d.      Perbedaan dalam Latar Belakang
Sekelompok individu dengan perbedaan latar belakang dan pengalaman dapat memperlancar atau sebaliknya menghambat prestasi belajar mereka. Misalnya, pengalaman-pengalaman belajar yang dimiliki anak dirumah mempengaruhi prestasinya dalam situasi belajar yang disajikan di sekolah.
Latar belakang individu dapat dipengaruhi oleh faktor dalam dan luar. Faktor dari dalam misalnya, kecerdasan, kemauan, bakat, minat, emosi, perhatian, kebiasaan bekerja sama, dan kesehatan yang mendukung belajar.  Anak-anak juga berbeda diapandang dari segi latar belakang budaya dan etnis. Motivasi untuk belajar berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya. Perbedaan latar belakang, yang mliputi perbedaan sisio-ekonomi sosio cultural, amat penting artinya bagi perkembangan anak. Akibatnya anak-anak pada umur yang sama tidak selalu berada pada tingkat kesiapan yang sama dalam menerima pengaruh dari luar yang lebih luas.

e.       Perbedaan dalam Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang dibawa sejak lahir. Bakat dapat juga diartikan sebagai kemampuan dasar yang menentukan sejauh mana keberhasilan seseorang untuk memperoleh keahlian atau pengetahuan tertentu bilamana seseorang diberi latihan-latihan tertentu. Misalnya seseorang yang mempunyai bakat numerical yang baik, bila diberi latihan-latihan akuntansi keuangan, akan mudah untuk menguasai masalah akuntansi, begitu pula sebaliknya.
Bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan atau ketrampilan yang relatif bisa bersifat umum (misalnya bakat intelektual umum) atau khusus (bakat akademis khusus). Bakat khusus juga disebut juga talent.
Perkembangan bakat dimiliki secara individual. Bakat akan berkembang dengan baik jika mendapat rangsangan atau kesempatan dan pemupukan secara tepat. Sebaliknya, bakat tidak dapat berkembang sama sekali manakala lingkungan tidak memberikan kesempatan untuk berkembang.
f.       Perbedaa dalam Kesiapan Belajar
Belajar adalah sebuah proses yang berkesinambungan dari sebuah pengalaman yang akan membuat suatu individu berubah dari tidak tahu menjadi tahu (kognitif), dari tidak mau menjadi mau (afektif) dan dari tidak bisa menjadi bisa (psikomotorik), misalnya seseorang anak yang belajar mengendarai sepeda akan terlebih dahulu diberi pengarahan oleh orang tuanya lalu anak tersebut mencoba untuk mengendarai sepeda hingga menjadi bisa.
Proses belajar dipengaruhi kesiapan murid, yang dimaksud dengan kesiapan ialah kondisi individu yang memungkinkan ia dapat belajar. Berkenaan dengan hal itu terdapat berbagai macam taraf kesiapan belajar untuk suatu tugas khusus. Seseorang siswa yang belum siap untuk melaksanakan suatu tugas dalam belajar akan mengalami kesulitan atau malah putus asa. Yang termasuk kesiapan ini ialah kematangan dan pertumbuhan fisik, intelegensi latar belakang pengalaman, hasil belajar yang baku, motivasi, persepsi dan faktor-faktor lain yang memungkinkan seseorang dapat belajar. Sedangkan Proses kematangan dan belajar akan sangat menentukan kesiapan belajar pada seseorang, misalnya seseorang yang proses kematangan dan belajarnya baik akan memiliki kesiapan belajar yang jauh lebih baik dengan seseorang yang proses kematangan dan belajarnya buruk. Perbedaan kesiapan individu tidak saja disebabkan oleh keragaman dalam rentang kematangan tetapi juga oleh keragaman dalam latar belakang sebelumnya.

C.     Aspek-aspek Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Dan Perkembangan Individu
1.      Pertumbuhan Fisik
Pertumbuhan fisik adalah perubahan fisik dari kecil atau pendek menjadi besar dan panjang yang prosesnya terjadi sejak sebelum lahir hingga dewasa. Berikut masa-masa pada pertumbuhan fisik.
2.      Perkembangan Intelektual
Intelektual atau pola pikir seseorang berkembang sejalan dengan pertumbuhan syaraf otaknya. Karena berpikir pada dasarnya menunjukkan fungsi otak, maka kemampuan intelektual dipengaruhi oleh kematangan syaraf otak yang mampu menunjukkan fungsinya secara baik. Perkembangan intelektual diawali dengan kemampuan mengenal dunia luar. Awalnya respon  terhadap rangsangan dari luar merupakan aktivitas reflektif, seiring dengan bertambahnya usia aktivitas tersebut berkurangterhadap setiap rangsangan dari luar dan selanjutnya mulai terkoordinasikan. Perkembangan berikutnya ditunjukkan pada perilakunya, yaitu tindakan memilih dan menolak sesuatu (proses analisis, evaluasi, membuat kesimpulan dan diakhiri dengan pembuatan keputusan.
3.      Bakat Khusus
Bakat adalah kemampuan khusus yang dimiliki oleh setiap individu yang memerlukan rangsangan atau latihan agar berkembang dengan baik. Seseorang yang memiliki bakat akan mudah diamati karena kemampuan yang dimilikinya berkembang dengan pesat. Sedangkan menurut Guilford, bakat mencakup tiga dimensi, yaitu dimensi perseptual, dimensi psikomotor, dan dimensi intelektual. Ketiga dimensi tersebut mengilustrasikan bahwa bakat mencakup kemampuan dalam penginderaan, ketepatan dan kecakapan menangkap makna, kecepatan dan ketepatan bertindak, serta kemampuan berfikir intelegen. Atas dasar bakat yang dimilikinya seorang individu akan mampu menunjukkan kelebihan dalam bertindak dan menguasai serta memecahkan masalah dibandingkan dengan orang lain. Bakat khusus merupakan salah satu kemampuan untuk bidang tertentu seperti bidang seni, olahraga, atau keterampilan.
4.      Sosial
Manusia adalah makluk social. Manusia tidak mampu hidup seorang diri tanpa bantuan orang lain. Sejak lahir manusia yang belum mengenal orang-orang di sekitarnya, berangsur- angsur mulai berkembang untuk mengenal dunia luar, meresponnya dan akhirnya saling kenal mengenal saling membantu satu sama lain.
5.      Bahasa
Bahasa merupakan alat komunikasi yang bias berupa tanda, gerak, suarayang berguna untuk menyampaikan isi pikiran kepada orang lain. Kemampuan berbahasa seseorang mulai ada dan berkembang sejak ia dilahirkan. Kemampuan itu mulai tampak dengan adanya ungkapan-ungkapan sederhana yang berupa tangisan yang menggambarkan rasa sedih dan kecewa, sennyum sebagai ungkapan rasa senang dan ekspresi-ekspresi lainnya yang terlihat pada masa bayi. Kemampuan berbahasa itu berangsur-angsur mulai berkembang seiring dengan bertambahnya usia hingga ungkapan itu dapat dimengerti dan bias berkomunikasi dengan orang lain.
6.      Sikap, nilai dan moral
      Dalam perjalanan hidup seorang manusia, pembelajaran terhadap nilai, moral, dan sikap tidak serta merta muncul sejak lahir. Hal itu disebabkan karena pada masa itu belum ada kemampuan untuk berinteraksi dan mengenal dunia luar. Seiring dengan perkembangan usia, mereka mulai berinteraksi dengan dunia luar. Dalm hal ini khususnya orang tua yang memegang peranan penting dalam upaya penanaman nilai, sikap dan moral pada diri anak. Walaupun pada masa ini upaya ini masih berupa paksaan saja, dalam artian anak masih belum mengerti akan maknanya, anak lama klelamaan akan terbiasa dan pada akhirnya dapat terbawa dalam jiwa mereka saat mereka dewasa kelak.



BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Manusia merupakan kesatuan dari makhluk individu dan sosial, kesatuan jasmani dan rohani, dan sebagai makhluk Tuhan. Artinya manusia merupakan kesatuan individu yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
Setiap individu memiliki karakteristik bawaan (heredity) dan lingkungan (environment). Karakteristik bawaan merupakan karakter keturunan yang dibawa sejak lahir  baik yang berkaitan dengan faktor biologis maupun sosial psikologis. Kepribadian, perilaku, apa yang diperbuat, dipikirkan, dan dirasakan oleh seorang (individu) merupakan hasil dari perpaduan antara faktor biologis sebagaimana unsur bawaan dan pengaruh lingkungan.
Pembahasan tentang aspek-aspek perkembangan individu dikenali ada dua hal yang menonjol, yaitu : umumnya manusia mempunyai unsur kesamaan dalam pola perkembangannya dan pola yang bersifat umum  itu manusia cenderung berbeda fisik dan nonfisik. Disini dibahas perbedaan individu dalam hal perbedaan kognitif, perbedan dalam kecakapan bahasa, perbedaan dalam kecakapan motorik, perbedaan dalan latar belakang, perbedaan dalam bakat, dan perbedaan dalam kesiapan belajar.
Aspek yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan individu adalah pertumbuhan fisik, perkembangan intelektual, bakat khusus, sosial, bahasa, sikap, nilai dan moral.
B.     Saran
1.      Sebaiknya konsep yang telah diketahui oleh seorang calon tenaga pengajar dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya dan dijadikan pembelajaran yang akan diterapkan oleh calon pengajar.
2.      Untuk menambah wawasan pembaca dapat melihat reverensi yang lain


Daftar Pustaka
Black, Blog.2013.Karakteristik dan Perbedaan Individu.[Online]. Tersedia:
           http://konsepblackbook.blogspot.com.[26 September 2014]
Cahyono, Didik.2013.Karakteristik dan Perbedaan Individu.[Online]. Tersedia:
           http://areknerut.wordpress.com.[26 September 2014]
Jaya, Aisyah. 2013.Pengertian Individu dan Karakteristiknya.[Online].Tersedia:
          http://macam-macammetodepembelajaran.blogspot.com

Saturday, August 16, 2014

Coretan Mahasiswa

Coretan Mahasiswa


Mahasiswa, saat kalian menjadi mahasiswa bagimana sih perasaan kalian, senang? Sedih? Atau apalah?? Yang jelas menjadi mahasiswa bagiku aku merasakan senang dan sedih, kenapa yah? Yah karena saat kita menjadi mahasiswa di situlah letak kedewasan kita, kita harus melepas masa remaja kita dan kita akan memasuki masa dewasa, dewasa ituh seperti apa sih? Saya juga masih belum tahu, seperti sekarang ini saya belum menjadi dewasa. Cukup sulit ternyata menjadi dewasa yang mau bagimanapun yah kita harus menjalaninya sekarang.
Kuliah, kuliah itu sangat berbeda dengan SMA. Menurut saya lebih asik SMA daripada kuliah, ya iyalah orang SMA tinggal belajar kemudian jika kita kurang memahami yah sudah tinggalkan, tapi kuliah itu belajar lebih tepatnya kebanyakan belajar sendiri, yah apa yang kita tidak pahami dan mengerti bagaimanapun caranya ya kita harus menguasainya. Sungguh kuliah itu ribet jika di fikirkan.
Pernah denger ga istilah Kupu-kupu dan Kura-kura di kampus, anak kuliahan sudah pasti tahu dong, kamu termasuk orang yang mana Kupu-kupu yang santai apa Kura-kura yang sibuk, hhmm kalo saya sendiri sih lebih milih jadi kura-kura walau sibuk. Kuliah rapat-kuliah rapat, yah itulah kerjanya jadi anak kura-kura, jika kita bisa mengatasinya dan di bikin enjoy enak loh jadi kura-kura kita bisa mengenal dunia kampus dan semua kegiatan yang dilakukan di kampus, asik lohh.
Kuliah kerja? Kuliah sambil kerja itu sangat bagus karena dengan kuliah sambil kerja ketika kita lulus nanti dan belum dapat kerjaan kita seengganya sudah memiliki pekerjaan yang sedang kita guleti, banyak loh sarjana yang nganggur. Kerja part time kadang sedikit mengganggu kuliah kita tapi kita usahakan dan bagi waktu antara kuliah dan kerja, banyak loh manfaatnya dari kerja sambil kuliah, di samping membantu biaya kuliah juga kita bisa lebih berpengalaman dalam dunia kerja, tidak di sangka cari kerja itu susah jika tanpa pengalaman.
Kuliah rata-rata empat tahun, tapi jika kita memang rajin dan tekun dalam belajar, kita bisa mengambil jalan tikus yaitu kuliah bisa sampai tiga tahun lulus, dengan mengambil kelas tingkat atas. Mengambil tingkat atas itu memang resikonya gede dan harus di pikirkan matang-matang terlebih dahulu sebelum akhirnya menyesal, sedikit cerita saya pernah mengambil tingkat atas yang salah satu syaratnya Ipk minimal 3,00 untuk dapat mengambil tingkat atas, tanpa bepikir panjang saya langsung mengambil tingkat atas, awalnya sedikit takut karena harus belajar dengan kaka tingkat yang tidak saya kenal, satu semester ingin cepet berakhir bagi saya semester ini cukup panjang karena mungkin salah saya tanpa berpikir dahulu sebelum bertindak, mata kuliah yang saya ambil di semester atas sedikit sulit pelajarannya sampai-sampai saya lebih memenntingkan mata kuliah yang saya ambil di tingkat atas dari pada mata kuliah yang wajib di semester ini, tapi dengan terus belajar dan saya yakin bisa akhirnya nilai-nilai saya semester ini lumayan naik dan bagus di bandingkan semester lalu.
Kuliah itu sedikit santai dari pada SMA, kuliah kadang hanya tiga sampai empat hari dalam satu minggu, engga kaya SMA yang dari senin sampai sabtu, belajar di kuliah sangat singkat, bisa di bayangkan liburan semester kuliah tiga bulan dalam setahun kita hanya belajar kurang lebih delapan bulan, sedangkan SMA paling kurang lebih sebelas bulan belajar.
Mungkin ini saja coretan saya menjadi mahasiswa, masih banyak coretan lain yang belum sempet saya tulis.

Thursday, July 31, 2014

TIPS MUDAH BELAJAR MATEMATIKA

TIPS MUDAH BELAJAR MATEMATIKA


TIPS MUDAH BELAJAR MATEMATIKA
Bagi Anda yang sedang mencari bagimana sih agar bisa pintar belajar matematika, matematika itu gak sulit gan, tergantung kita nanggepinnya gimana?? Matematika itu sangat luas gan, saya sendiri merasa tidak semuanya mendalami matematika. Sedikit Tips nih cara mudah belajar matematika, kebetulan saya sendiri mengambil kuliah Pendidikan Matematika. Di kalangan sosial orang yang tidak bisa matematika menganggap bahwa orang yang bisa matematika itu adalah orang yang hebat, persepsi itu gak terlalu benar gan, saya sendiri jika ditanya tetangga kuliah ngambil apa? Saya hanya jawab ngambil Pendidikan. Kenapa saya gak jabarin pendidikan matematika, malah pendidikannya ajah gan? Saya gak mau gan di anggap hebat karena mengambil matematika, bukannya rendah diri gan, karena saya masih tidak menguasai semua pelajaran matematika, karena matematika itu cakupannya sangat luas, dengan berbagai variasi dalam setiap soalnya.
Langsung saja gan nih Tips agar mudah belajar matematika..
1.      SUKAI PELAJARANNYA
Iya jelas gan yang pertama adalah sukai dulu pelajarannya, seperti halnya kita mencintai seseorang maka kita akan mencari tahu lebih banyak info tentang orang tersebut. Jadi sukai dulu matematika maka kita akan senang dan sabar dalam mempelajarinya.
2.      AKTIF DI DALAM KELAS
Aktif dalam kelas maksudnya gan, ketika seorang guru menjelaskan atau memberikan soal matematika, ketika kita tidak memahaminya kita tanyakan pada guru tersebut darimana rumus itu, bagaimana bisa dapat seperti itu. Dan jika guru memberikan soal kita langsung mencoba mengerjakannya, apabila kita kurang memahami maka tanyakan pada teman yang bisa mengerjakannya atau tanyakan langsung pada gurunya.
3.      BELAJAR MENYELESAIKAN SOAL-SOAL
Cara ini adalah cara yang sangat membantu gan, kenapa? Karena ketika kita belajar menyelesaikan soal-soal maka ketika kita terbiasa kita akan mudah dalam mengerjakan berbagai soal yang di berikan oleh guru ketika test atau ujian. Karena seperti yang sudah saya jelaskan di atas bahwa matematika itu sangat luas dengan berbagai variasi soal-soalnya.

4.      BERTEMAN DENGAN ORANG YANG PINTAR
Tips yang terakhir dari saya penting nih kawan, ketika kita ingin pintar maka kita harus berteman dengan orang pintar, seperti halnya pepatah bahwa berteman dengan tukang minyak wangi maka kita akan kena bau wanginya. Ketika kita berteman dengan orang yang pintar maka kita akan banyak termotifasi darinya, orang pintar akan selalu mengajak temannya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat seperti belajar bersama menyelesikan permasalahan-permasalahan dalam matematika.

Mungkin sedikit Tips dari saya gan, semoga bermanfaat ya gan sebenarnya masih banyak gan Tips-tips lainnya yang bermanfaat.


Monday, June 16, 2014

Pembelajaran Tematik Integratif di SMA



PEMBELAJARAN TEMATIK INTEGRATIF DI SMA
A. Pengertian
1. Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik adalah sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual/kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep/prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik melalui tema tertentu. Pembelajaran tematik merupakan usaha mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, nilai, sikap, dan pemikiran kreatif dalam pembelajaran dengan menggunakan tema sebagai pokok kajian. Tema dikaji secara mendalam.[1]
Pembelajaran tematik merupakan salah satu model dalam pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif menggali serta menemukan konsep serta prinsip-prinsip keilmuan  secara holistik, bermakna, dan autentik. Pembelajaran terpadu berorientasi pada praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan siswa. pendekatan ini berangkat dari teori pembelajaran yang menolak proses latihan/hafalan (drill) sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk piaget yang menekankan bahwa pembelajaran itu haruskah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak. Pendekatan pembelajaran terpadu lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing).Model pembelajaran tematik adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik yang melibatkan beberapa mata pelajaran untuk memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Dikatakan bermakana karena dalam pembelajaran tematik, siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Fokus perhatian dalam pembelajaran tematik terletak pada proses yang ditempuh siswa saat berusaha memahami isi pembelajaran sejalan dengan bentuk-bentuk keterampilan yang harus dikembangkannya.Dalam pelaksanaannya, pendekatan pembelajaran tematik ini bertolak dari suatu tema yang dipilih dan dikembangkan oleh guru bersama siswa dengan memerhatikan keterkaitannya dengan isi mata pelajaran. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Tujuan dari adanya tema ini bukan hanya untuk menguasai konsep-konsep dalam suatu mata pelajaran, tetapijuga keterkaitannya dengan konsep-konsep dari mata pelajaran lainnya.Adanya tema ini akan memberikan banyak keuntungan, diantaranya (1) siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu; (2) siswa dapat mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama; (3) pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan; (4) kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa; (5) siswa dapat lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi disajikan dalam konteks tema yang jelas; (6) siswa dapat lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam suatu tema pelajaran sekaligus mempelajari mata pelajaran lain; (7) guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara terpadu dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatana remidial, pemantapan, atau pengayaan.[2]
 2. Pembelajaran Terpadu Tipe IntegratedModel ini merupakan pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan antar bidang studi. Model ini diusahakan dengan cara menggabungkan bidang studi dengan cara menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keteranpilan, konsep dan sikap yang saling tumpang tindih di dalam beberapa bidang studi. Pada model ini tema yang berkaitan dan tumpang tindih merupakan hal terakhir yang ingin dicari dan dipilih oleh guru dalam tahap perencanaan program. pertama kali guru menyeleksi konsep-konsep, keterampilan dan sikap-sikap yang diajarkan dalam satu semester dari beberap bidang studi, selanjutnya dipilih beberapa konsep, keterampilan, dan sikap yang memiliki keterhubungan yang erat dan tumpang tindih di antara berbagai bidang studi.[3]
Pendekatan integratif, yang juga dikenal dengan nama pendekatan terpadu, bertitik tolak dari suatu keseluruhan atau kesatuan yang bermakna dan terstruktur. Bermakna mempunyai arti bahwa setiap suatu keseluruhan tersebut memiliki makna, arti, dan faedah tertentu. Keseluruhan tersebut bukanlah penjumlahan dari berbagai bagian,  melainkan suatu totalitass yang memiliki makna tersendiri. Adapun terstruktur mempunyai asumsi bahwa setiap bagian yang ada dalam keseluruhan itu berada dan berfungsi dalam suatu struktur tertentu. sebagai contoh, manusia bukanlah penjumlahan dari bagian-bagian tubuh atau penjumlahan dari badaniah dan rohaniah, melainkan sesuatu yang utuh. dalam konteks ini, pendidikan anak adalah pendidikan yang menyeluruh atau dengan kata lain pendidikan dalam rangka pembentukan yang terintegrasi. Oleh karena itu, kurikulum harus disusun sedemikian rupa sehingga mampu mengembangkan pribadi yang utuh, dengan mempertimbangkan bahwa anak adalah suatu potensi yang sedang berkembang dan merupakan organisme yang hidup, yang hidup dalam masyarakat yang sedang berkembang pula.[4]
B. Karakteristik
Karakteristik pembelajaran tematik yang paling utama adalah: (1) holistic (utuh), tema dikaji dari berbagai bidang (mata pelajaran) sekaligus; (2) bermakna artinya fungsional bagi kehidupan peserta didik, tema yang dipelajari berguna atau bermanfaat bagi kehidupan peserta didik; (3) otentik yakni menekankan pada pengalaman belajar langsung atau menggunakan situasi kehidupan riil; (4) aktif melibatkan peserta didik secara aktif mulai dari perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi.
C. Prinsip Pelaksaan
Ada beberapa prinsip dalam pembelajan tematik, yaitu (1) tema sedang (tidak terlalu luas atau sempit) (2) tema harus bermakna; (3) tema sesuai tingkat perkembangan peserta didik; (4) tema mampu mewadahi minat peserta didik; (5) peristiwanya otentik; (6) mengakomodasi pertimbangan kurikulum dan harapan masyarakat; (7) mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar; (8) guru bukan aktor tunggal; (9) pemberian tanggung jawab yang jelas kepada setiap siswa; (10) guru bersifat akomodatif terhadap ide yang berkembang meskipun belum direncanakan.
D. Prinsip Evaluasi
Ada beberapa prinsip dalam model pembelajaran tematik, yaitu: (1) guru hendaknya memberi kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan evaluasi diri; (2) evaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan dalam kontrak belajar: (3) guru hendaknya merespons setiap reaksi siswa dalam semua even sebagai satu kesatuan utuh dan bermakna.
E. Proses Pembelajaran Tematik
Proses pembelajaran tematik terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, dan kulminasi. Proses perencanaan terdiri atas: (1) menjajakan tema; (2) penetapan tema; (3) pengembangan subtema; (4) penilaian proses. Proses pelaksanaan terdiri atas: (1) pengumpulan data/informasi; (2) pengolahan data; (3) penyusunan laporan; (4) penilaian proses. Proses kulminasi terdiri atas: (1) penyajian laporan; dan (2) penilaian.[5]F. Arti Penting Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik sebagai model pembelajaran memiliki arti penting dalam membangun kompetensi peserta didik, antara lain:
1.      Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pembelajaran ini dimotori para tokoh Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi pada kebutuhan dan perkembangan anak.
2.      Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsure-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif. Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap perkembangan perkembangan siswa yang masih melihat segal sesuatu sebagai kesatuan (holistic).
 Dengan pelaksaan pembelajaran dengan memanfaatkan tema ini, akan diperoleh beberapa manfaat yaitu:
1)      Dengan menggabungkan beberapa kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan dihilangkan;
2)      Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat bukan tujuan akhir;
3)      Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-pecah, dan
4)      Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan konsep akan semakin baik dan meningkat.
G. Keterbatasan Pembelajaran Tematik di SMA
Selain kelebihan yang dimiliki, pembelajaran tematik juga memiliki keterbatasan, terutama dalam pelaksanaanya, yaitu pada perencanaan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih banya menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses, dan tidak hanya evaluasi dampak pembelajaran langsung saja.
1.      Aspek guru
Guru harus berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi, dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akandiajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak berfokus pada bidang kajian tertentu saja. Tanpa kondisi ini, maka pembelajaran tematik akan sulit terwujud.
2.      Aspek peserta didik
Pembelajaran tematik menuntut kemampuan belajar peserta didikyang relatif  “baik“, baik dalamkemampuan akademik maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi karena model pembelajaran tematik menekankan pada kemampuan analitik (mengurai), kemampuan asosiatif (menghubungkan), kemampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan menghubungkan). Bila kondisi ini tidak dimiliki, maka penerapan model pembelajaran tematik ini sangat sulit dilaksanakan
.3.      Aspek sarana dan sumber pembelajaran
Pembelajaran tematik memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan menunjang, memperkaya, dan mempermudah pengembangan wawasan. Bila sarana ini tidak terpenuhi, maka penerapan pembelajaran ini akan terhambat.
4.      Aspek kurikulum
Kurikulum harus luwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian materi). Guru perlu diberi kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian keberhasilan pembelajaran peserta didik.
5.      Aspek penilaian
Pembelajaran tematik membutuhkan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensip), yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dari beberapa bidang kajian terkait yang dipadukan. Dalam kaitan ini, guru selain dituntut untuk menyediakan teknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang komprehensif, juga dituntut untuk berkoordinasi dengan guru lain, bila materi pelajaran berasal dari guru yang berbeda.
6.      Aspek suasana pembelajaran
Pembelajaran tematik berkecenderungan mengutamakan salah satu bidang kajian dan tenggelamnya bidang kajian lain. Dengan kata lain, pada saat mengajarkan sebuah tema, maka guru berkecenderungan menekankan atau mengutamakan substansi gabungan tersebut sesuai dengan pemahaman, selera, dan latar belakang pendidikan guru itu sendiri.[6]
H. Sintaks  (Langkah-langkah) Model Pembelajaran Tematik
Sintaks pembelajaran tematik pada dasarnya mengikuti langkah-langkah pembelajaran terpadu. Secara umum sintaks tersebut mengikuti tahap-tahap yang dilalui dalam setiap model pembelajaran yang meliputi tuga tahap, yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi (Prabowo, 2000: 6). Berkaitan dengan itu maka sintaks model pembelajaran tematik dapat direduksi dari berbagai model pembelajaran seperti model pembelajaran langsung, model pembelajaran kooperatif, maupun model pembelajaran berdasarkan masalah.
1.      Tahap perencanaan
  1. Menentukan jenis mata pelajaran dan jenis keterampilan yang dipadukan.
Karakteristik mata pelajaran menjadi pijakan untuk kegiatan awal ini. Seperti contoh diberikan oleh Fogarty (1991: 28), untuk jenis mata pelajaran sosial dan bahasa dapat dipadukan keterampilan berpikir dengan keterampilan sosial, sedangkan untuk mata pelajaran sains dan matematika dapat dipadukan keterampilan berpikir dan keterampilan mengorganisir.
  1. Memilih kajian materi, standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator
Langkah ini akan mengarahkan guru untuk menentukan sub keterampilan dari masing-masing keterampilan yang dapat diintegrasikan dalam suatu unit pembelajaran.
  1. Menentukan sub keterampilan yang dipadukan
Secara umum keterampilan-keterampilan yang harus dikuasai meliputi keterampilan berpikir, keterampilan sosial, dan keterampilan mengorganisasi, yang masing-masing terdiri atas sub-sub keterampilan.
  1. Merumuskan indikator hasil belajar
Berdasarkan kompetensi dasar dan sub keterampilan yang telah dipilih dirumuskan indikator. Setiap indikator dirumuskan berdasarkan kaidah penulisan meliputi: audience (peserta didik), behavior (perilaku yang diharapkan), condition (media /alat) dan degree (jenjang/jumlah)
  1. Menentukan langkah-langkah pembelajaran
Langkah ini diperlukan sebagai strategi guru untuk mengintegrasikan setiap sub keterampilan yang telah dipilih pada setiap langkah pembelajaran.
2.      Tahap Pelaksanaan
Prinsip-prinsip utama dalam pelaksanaan pembelajaran terpadu, meliputi:
a.       Guru hendaknya tidak menjadi single actor yang mendominasi dalam kegiatan pembelajaran;
b.      Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerja sama kelompok;
c.       Guru perlu mengakomodatif  terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam proses perencanaan Depdiknas (1996: 6).
3.      Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi dapat berupa evaluasi proses pembelajaran dan evaluasi hasil pembelajaran. Tahap evaluasi menurut Departemen Pendidikan Nasional (1996 :6), hendaknya memperhatikan prinsip evaluasi pembelajaran terpadu.
a.       Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri disamping bentuk lainnya.
b.      Guru perlu mengajak para siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang akan dicapai.[7]                     


    DAFTAR PUSTAKA
Akbar, Sa’dun, 2013. Instrumen Perangkat Pembelajaran, Bandung: Rosdakarya.
Hamalik, Oemar, 2007. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung: Rosdakarya.
Mulyasa, E, 2013. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, Bandung: Rosdakarya.
Rusman, 2009. Manajemen Kurikulum, Jakarta: Rajawali Pers.
Trianto, 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek, Jakarta:Prestasi Pustaka.

[1] Pro. Dr. Sa'dun Akbar., M.Pd., Instrumen Perangkat Pembelajaran, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007, hlm. 69.[2] Dr. Rusman, M.Pd., Manajemen Kurikulum, Jakarta: Rajawali Pers, 2009, hlm. 253.[3] Trianto, S.Pd., M.Pd. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007, hlm. 47[4] Prof. Dr. H. Oemar Hamalik, Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung:  2007, Rosdakarya, hlm. 36[5] Prof. Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd. Instrumen Perangkat Pembelajaran, Bandung:  2007, Rosdakarya, hlm. 69[6] Trianto, S.Pd., M.Pd. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007, hlm. 108 [7] Trianto, S.Pd., M.Pd. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2007, hlm. 15