Wednesday, December 10, 2014

Makalah : Pembelajaran Matematika Terpadu


PEMBELAJARAN MATEMATIKA TERPADU
MAKALAH
Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar dan Proses Pembelajaran Matematika
Dosen: Ibu Dina Dwi Santi Pratiwi, S.Pd., M.Pd
Di Susun Oleh:
Kelompok : 3
1.      Diki Dwiyana (113070115) 2A
2.      Widiawati (113070075) 2B
3.      Reva Laelatus Sifa (113070098) 2B
4.      Ikhvana Dwi Rionaldy (113070173) 2B
5.      Ita Yunita S (113070192) 2B

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUG JADI
CIREBON
2014


Kata Pengantar
      Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini dengan baik sesuai dengan waktu yang telah di tentukan.
            Makalah ini kami buat untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah Dasar-dasar dan Proses Pembelajaran Matematika yaitu tentang “Pembelajaran Matematika Terpadu”.
      Bersama ini kami juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya makalah ini, terutama kepada Allah SWT, Dosen pembimbing, dan semua rekan yang telah ikut membimbing kami dalam penyusunan makalah ini.
      Dalam penyusunan makalah ini tentu jauh dari sempurna, karenanya kami masih dalam proses belajar. Oleh karena itu, segala kritik dan saran sangat kami harapkan demi perbaikan dan penyempurnaan makalah ini dan untuk pelajaran bagi kita semua dalam pembuatan makalah-makalah selanjutnya. Kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini bisa bermanfaat, baik bagi penyusun maupun yang lainnya.





Cirebon,        Desember 2014

Penyusun




DAFTAR ISI
Kata pengantar ................................................................................................................ i
Daftar Isi ......................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
A.    Latar Belakang Masalah............................................................................................ 1
B.     Rumusan Masalah...................................................................................................... 2
C.     Tujuan Penyusunan.................................................................................................... 2
D.    Manfaat Penyusunan................................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................................... 3
A.    Pengertian Pembelajaran Terpadu.............................................................................. 3
B.     Prinsip-prisip Pembelajaran Terpadu.......................................................................... 4
C.     Ciri-ciri Pembelajaran Terpadu.................................................................................. 6
D.    Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Terpadu.................................................... 7
E.     Pentingnya Pembelajaran Terpadu Diterapkan Di Tingkat Sekolah Dasar................ 9
BAB III PENUTUP........................................................................................................ 11
A.    Kesimpulan................................................................................................................ 11
B.     Saran.......................................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................... 12


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga berada padarentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasan sepertiIQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Pada umumnya tingkatperkembangan masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampumemahami hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masihbergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami secara langsung.
Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I –III untuk setiap mata pelajarandilakukan secara terpisah, misalnya IPA 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran, dan BahasaIndonesia 2 jam pelajaran. Dalam pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni matapelajaran yaitu hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yangberhubungan dengan mata pelajaran itu. Sesuai dengan tahapan perkembangan anak yangmasih melihat segala sesuatu sebagai suatu keutuhan (holistik), pembelajaran yangmenyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkananak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.
Dalam rangka implementasi Standar Isi yang termuatdalam Standar Nasional Pendidikan, maka pembelajaran pada kelas awal sekolah dasaryakni kelas satu, dua, dan tiga lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melaluipendekatan pembelajaran tematik. Untuk memberikan gambaran tentang pembelajarantematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model pelaksanaanpembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III.
Di samping itu, kurikulum 2013 yang juga menggunakan  pendekatan Tematik Terpadu. Tujuannya adalah agar siswa dapat mengembangkan diri dan kompetensinya secara holistic dan bermakna. Pembelajaran tematik integratif, perlu didukung perangkat pembelajaran Tematik Integratif yang berkualitas sehingga menumbuhkan kemampuan berfikir kritis dan karakterpositif. Sebagai calon tenaga pendidik merupakan sesuatu yang perlu untuk mengetahui tentang kurikulum 2013, khususnya pembelajaran tematik terpadu. Sehingga dalam penyusunan makalah ini, penyusun berusaha memaparkan tentang pembelajaran tematik terpadu, yakni Pembelajaran Matematika Terpadu.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan pembelajaran terpadu?
2.      Bagaimanakah prinsip-prinsip dari pembelajaran terpadu?
3.      Apakah ciri-ciri dari pembelajaran terpadu?
4.      Apakah kelebihan dan kelemahan dari pembelajaran terpadu?
5.      Mengapa pembelajaran terpadu penting untuk diterapkan di tingkat sekolah dasar?
C.     Tujuan Penyusunan
1.      Untuk mendeskripsikan pengertian pembelajaran terpadu.
2.      Untuk mendeskripsikan prisip-prinsip dari pembelajaran terpadu.
3.      Untuk mengidentifikasi ciri-ciri dari pembelajaran terpadu.
4.      Untuk mengidentifikasi kelebihan dan kelemahan dari pembelajaran terpadu.
5.      Untuk menguraikan alasan pentingnya pembelajaran terpadu untuk diterapkan di tingkat sekolah dasar.
D.    Manfaat Penyusunan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini, yaitu:
1.      Dapat dijadikan sebagai bahan bacaan mahasiswa calon guru SD.
2.      Dapat menunjang bahan mata kuliah Pembelajaran Terpadu.
3.      Dapat memberikan pengetahuan bagi pendidik khusunya untuk guru SD tentang model pembelajaran terpadu.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Pembelajaran Terpadu
Beberapa pengertian dari pembelajaran terpadu yang dikemukakan oleh beberapa orang pakar pembelajaran terpadu diantaranya :
1.      Menurut Cohen dan Manion (1992) dan Brand (1991), terdapat tiga kemungkinan variasi pembelajaran terpadu yang berkenaan dengan pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana pendidikan progresif yaitu kurikulum terpadu (integrated curriculum), hari terpadu (integrated day), dan pembelajaran terpadu (integrated learning). Kurikulum terpadu adalah kegiatan menata keterpaduan berbagai materi mata pelajaran melalui suatu tema lintas bidang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna sehingga batas antara berbagai bidang studi tidaklah ketat atau boleh dikatakan tidak ada. Hari terpadu berupa perancangan kegiatan siswa dari sesuatu kelas pada hari tertentu untuk mempelajari atau mengerjakan berbagai kegiatan sesuai dengan minat mereka. Sementara itu, pembelajaran terpadu menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik pusatnya (center core / center of interest);
2.      Menurut Prabowo (2000 : 2), pembelajaran terpadu adalah suatu proses pembelajaran dengan melibatkan / mengkaitkan berbagai bidang studi. Dan ada dua pengertian yang perlu dikemukakan untuk menghilangkan kerancuan dari pengertian pembelajaran terpadu di atas, yaitu konsep pembelajaran terpadu dan IPA terpadu.
Menurut Prabowo (2000:2), pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang melibatkan beberapa bidang studi. Pendekatan belajar mengajar seperti ini diharapkan akan dapat memberikan pengalaman yang bermakna kepada anak didik kita. Arti bermakna disini dikarenakan dalam pembelajaran terpadu diharapkan anak akan memperoleh pemahaman terhadap konsep-konsep yang mereka pelajari dengan melalui pengalaman langsung dan menghubungkannya dengan konsep lain yang sudah mereka pahami.
Pembelajaran terpadu merupakan pendekatan belajar mengajar yang memperhatikan dan menyesuaikan dengan tingkat perkembangan anak didik (Developmentally Appropriate Practical). Pendekatan yang berangkat dari teori pembelajaran yang menolak drill-system sebagai dasar pembentukan pengetahuan dan struktur intelektual anak.
Langkah awal dalam melaksanakan pembelajaran terpadu adalah pemilihan/ pengembangan topik atau tema. Dalam langkah awal ini guru mengajak anak didiknya untuk bersama-sama memilih dan mengembangkan topik atau tema tersebut. Dengan demikian anak didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan pembuatan keputusan.
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan terpadu ini diharapkan akan dapat memperbaiki kualitas pendidikan dasar, terutama untuk mencegah gejala penjejalan kurikulum dalam proses pembelajaran di sekolah. Dampak negatif dari penjejalan kurikulum akan berakibat buruk terhadap perkembangan anak. Hal tersebut terlihat dengan dituntutnya anak untuk mengerjakan berbagai tugas yang melebihi kapasitas dan kebutuhan mereka. Mereka kurang mendapat kesempatan untuk belajar, untuk membaca dan sebagainya. Disamping itu mereka akan kehilangan pengalaman pembelajaran alamiah langsung, pengalaman sensorik dari dunia mereka yang akan membentuk dasar kemampuan pembelajaran abstrak (Prabowo, 2000:3).
B.     Prinsip-prinsip Pembelajaran Terpadu
Berikut ini dikemukakan pula prinsip-prinsip dalam pembelajaran terpadu yaitu meliputi :
1.      Prinsip penggalian tema,
a)      Tema hendaknya tidak terlalu luas, namun dengan mudah dapat digunakan memadukan banyak bidang studi,
b)      Tema harus bermakna artinya bahwa tema yang dipilih untuk dikaji harus memberikan bekal bagi siswa untuk belajar selanjutnya,
c)      Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis anak.
d)     Tema yang dikembangkan harus mampu mewadahi sebagian besar minat anak,
e)      Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan penstiwa-peristiwa otentik yang terjadi dalam rentang waktu belajar,
f)       Tema yang dipilih hendaknya mempertimbangkan kurikulum yang berlaku, serta harapan dari masyarakat,
g)      Tema yang dipilih hendaknya juga mempertimbangkan ketersediaan sumber belajar.
2.      Prinsip pelaksanaan terpadu di antaranya :
a)      Guru hendaknya jangan menjadi “single actor “ yang mendominasi pembicaraan dalam proses belajar mengajar,
b)      Pemberian tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas  yang menuntut adanya kerjasarna kelompok,
c)      Guru perlu akomodatif terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam poses perencanaan.
3.      Prinsip evaluatif adalah :
a)      Memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri di samping bentuk evaluasi lainnya,
b)      Guru perlu mengajak siswa untuk mengevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang telah disepakati dalam kontrak.
4.      Prinsip reaksi
Dampak pengiring (nuturan efek) yang penting  bagi perilaku secara sadar belum tersentuh oleh guru dalam kegiatan belajar mengajar. Karena itu, guru dituntut agar mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran sehingga tercapai secara tuntas tujuan-tujuan pembelajaran. Guru harus bereaksi terhadap reaksi siswa dalam semua “event “ yang tidak diarahkan ke aspek yang sempit tetapi ke suatu kesatuan utuh dan bermakna.
Waktu pembelajaran terpadu bisa bermacam-macam yaitu : a) pembelajaran terpadu yang dilaksanakan pada waktu tertentu, yaitu apabila materi yang dijalankan cocok sekali diajarkan secara terpadu; b) Pembelajaran terpadu bersifat temporer, tanpa kepastian waktu dan bersifat situasional, dimana pelaksanaannya tidak mengikuti jadwal yang teratur, pelaksanaan pembalajaran terpadu secara spontan memiliki karakteristik dengan kegiatan belajar sesuai kurikulum yang isinya masih terkotak-kotak berdasarkan mata pelajaran. Walaupun demikian guru tetap harus merencanakan keterkaitan konseptual atau antar pelajaran, dan model jaring laba-laba memungkinkan dilaksanakan dengan pembelajaran terpadu secara spontan (tim pengembang PGSD, 1996); c) Ada pula yang melaksanakan pembelajaran terpadu secara periodik, misalnya setiap akhir minggu, atau akhir catur wulan. Waktu-waktunya telah dirancang secara pasti; d) Ada pula yang melaksanakan pembelajaran terpadu sehari penuh. Selama satu hari tidak ada pembelajaran yang lain, yang ada siswa belajar dengan yang diinginkan. Siswa sibuk dengan urusannya masing-masing.
Pembelajaran ini dikenal dengan istilah “integrated day “ atau hari terpadu. Diawali dengan kegiatan pengelolaan kelas yang meliputi penyiapan aspek-aspek kegiatan belajar, alat-alat, media dan peralatan lainnya yang dapat menunjang terlaksananya pembelajaran terpadu. Dalam tahap perencanaan guru memberikan arahan kepada murid tentang kegiatan yang akan dilaksanakan, cara pelaksanaan kegiatan, dan cara siswa memperoleh bantuan guru.
C.     Ciri-ciri Pembelajaran Terpadu
Hilda Karli dan Margaretha (2002:15) mengemukakan beberapa ciri pembelajaran terpadu, yaitu sebagai berikut:
1.      Holistik, suatu peristiwa yang menjadi pusat perhatian dalam pembelajaran terpadu dikaji dari beberapa bidang studi sekaligus untuk memahami suatu fenomena dari segala sisi.
2.      Bermakna, keterkaitan antara konsep-konsep lain akan menambah kebermaknaan konsep yang dipelajari dan diharapkan anak mampu menerapkan perolehan belajarnya untuk memecahkan masalah-masalah nyata di dalam kehidupannya.
3.      Aktif, pembelajaran terpadu dikembangkan melalui pendekatan diskoveri-inquiri. Peserta didik terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran yang secara tidak langsung dapat memotivasi anak untuk belajar.
Sejalan dengan itu, Tim Pengembang PGSD (1977:7) mengemukakan bahwa pembelajaran terpadu memiliki ciri-ciri berikut ini.
1.      Berpusat pada anak
2.      Memberikan pengalaman langsung pada anak
3.      Pemisahan antara bidang studi tidak begitu jelas
4.      Memyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam suatu proses pembelajaran.
5.      Bersikap luwes
6.      Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
D.    Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Terpadu
Pembelajaran terpadu memiliki kelebihan dibandingkan dengan pendekatan konvensional, yaitu sebagai berikut.
1.      Pengalaman dan kegiatan belajar peserta didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak.
2.      Kegiatan yang dipilih dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan peserta didik.
3.      Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi peserta didik sehingga hasil belajar akan dapat bertahan lebih lama.
4.      Pembelajaran terpadu menumbuhkembangkan keterampilan berpikir dan sosial peserta didik.
5.      Pembelajaran terpadu menyajikan kegiatan yang bersifat pragmatis dengan permasalahan yang sering ditemui dalam kehidupan/lingkungan riil peserta didik.
6.      Jika pembelajaran terpadu dirancang bersama, dapat meningkatkan kerja sama antar guru bidang kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik/guru dengan nara sumber; sehingga belajar lebih menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna.
Di samping ada kelebihan di atas, pembelajaran terpadu memiliki kelemahan, terutama dalam pelaksanaannya, yaitu pada perancangan dan pelaksanaan evaluasi yang lebih banyak menuntut guru untuk melakukan evaluasi proses, dan tidak hanya evaluasi dampak pembelajaran langsung saja. Puskur, Balitbang Diknas (ttg:9) mengidentifikasi beberapa kelemahan pembelajaran terpadu antara lain dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu sebagai berikut.
1.      Aspek Guru
Guru harus berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi, keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik, guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada bidang kajian tertentu saja.
2.      Aspek Peserta Didik
Pembelajaran terpadu memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan menunjang, memperkaya, dan mempermudah pengembangan wawasan. Bila sarana ini tidak dipenuhi, maka penerapan pembelajaran terpadu juga akan terlambat.
3.      Aspek Kurikulum
Kurikulum harus luwes, berorientasi pada pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada pencapaian target penyampaian materi). Guru perlu diberi kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian keberhasilan pembelajaran peserta didik.
4.      Aspek Penilaian
Pembelajaran terpadu memerlukan cara penilaian yang menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan belajar peserta didik dari beberapa bidang kajian terkait yang dipadukan.
5.      Aspek Suasana Pembelajaran
Pembelajaran terpadu berkecenderungan mengutamakan salah satu bidang kajian dan ‘tenggelam’nya bidang kajian lain. Dengan kata lain, pada saat mengerjakan sebuah tema, maka guru berkecenderungan menekankan atau mengutamakan substansi gabungan tersebut sesuai dengan pemahaman, selera, dan latar belakang pendidikan guru itu sendiri.
E.     Pentingnya Pembelajaran Terpadu Diterapkan Di Tingkat Sekolah Dasar
Piaget mengemukakan bahwa perkembangan intelektual anak meliputi tahapan: (a) sensori-motor, (b) pra operasional, (c) operasional konkrit, dan (d) operasional formal. Anak-anak usia dini (2-8 th) berada pada tahapan pra operasional dan operasional konkrit, sehingga kalau kita merujuk pada teori ini, dalam praktik pembelajaran di kelas hendaknya guru memperhatikan ciri-ciri perkembangan anak pada tahapan ini. Secara khusus pula para ahli psikologi pendidikan anak mengemukakan bahwa perkembangan anak usia dini bersifat holistik; perkembangan anak bersifat terpadu, di mana aspek perkembangan yang satu terkait erat dan mempengaruhi aspek perkembangan lainnya. Perkembangan fisik tidak bisa dipisahkan dari perkembangan mental, sosial, dan emosional ataupun sebaliknya, dan perkembangan itu akan terpadu dengan pengalaman, kehidupan, dan lingkungannya.
Merujuk pada teori-teori belajar, di antaranya teori Piaget, maka dalam pembelajaran di jenjang SD kelas rendah hendaknya kita menggunakan pendekatan yang berorientasi pada kebutuhan perkembangan anak (DAP atau Developmentally Appropiate Practice). Penggunaan pendekatan DAP ini mengacu pada beberapa asas yang harus diperhatikan oleh guru, yaitu:
1.      Asas kedekatan, pembelajaran dimulai dari yang dekat dan dapat dijangkau oleh anak,
2.      Asas faktual, pembelajaran hendaknya menapak pada hal-hal yang faktual (konkrit) mengarah pada konseptual (abstrak),
3.      Asas holistik dan integratif, pembelajaran hendaknya tidak memilah-milah topik pelajaran, guru harus memikirkan segala sesuatu yang akan dipelajari anak sebagai suatu kesatuan yang utuh dan terpadu,
4.      Asas kebermaknaan, pembelajaran hendaknya penuh makna dengan menciptakan banyak proses manipulatif sambil bermain.
Model pembelajaran terpadu tidak hanya cocok untuk peserta didik usia dini, namun bisa juga digunakan untuk peserta didik pada satuan pendidikan SMP/MTs dan SMA/MA, karena pada hakikatnya model pembelajaran ini merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan siswa baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik (Depdikbud: 1996:3).












BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pembelajaran terpadu sebagai suatu proses mempunyai beberapa ciri yaitu : berpusat pada anak (student centered), proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman langsung, serta pemisahan antar bidang studi tidak terlihat jelas. Disamping itu pembelajaran terpadu menyajikan konsep dari berbagai bidang studi dalam satu proses pembelajaran. Kecuali mempunyai sifat luwes, pembelajaran terpadu juga memberikan hasil yang dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
Salah satu keterbatasan yang menonjol dari pembelajaran terpadu adalah pada faktor evaluasi. Pembelajaran terpadu menuntut diadakannya evaluasi tidak hanya pada produk, tetapi juga pada proses. Evaluasi pembelajaran terpadu tidak hanya berorientasi pada dampak instruksional dari proses pembelajaran, tetapi juga pada proses dampak pengiring dari proses pembelajaran tersebut. Dengan demikian pembelajaran terpadu menuntut adanya teknik evaluasi yang banyak ragamnya.
Jadi, pembelajaran terpadu merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mencari, menggali dan mengemukakan konsep serta prinsip keilmuan secara holistik, bermakna, dan otentik.
B.     Saran
Masalah pembelajaran yang dihadapi para pendidik saat ini semakin kompleks. Untuk itu para pendidik khususnya para guru di SD diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam menciptakan dan mengembangkan model-model pembelajaran, agar dapat menunjang terciptanya proses belajar mengajar di kelas yang lebih bermakna dan menyenangkan bagi peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA
Indrawati. 2009. Model Pembelajaran Terpadu Di Sekolah Dasar. Jakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Ilmu Pengetahuan Alam (PPPPTK IPA).



Sunday, October 19, 2014

Peran Komputer dalam Pendidikan Matematika

Peran Komputer dalam Pendidikan Matematika

Bicara tentang komputer, sudah tidak asing lagi mendengarnya. Yah karena hampir setiap orang memilikinya, komputer berkembang dengan sangat pesat mengikuti arah perkembangan zaman. Dari masa kemasa komputer terus berkembang, dari Komputer yang besarnya satu kamar sampai yang sekarang bisa di bawa kemana-mana atau yang biasa di kenal dengan Laptop/Netbook. Komputer sangat membantu dalam semua kegiatan manusia, hampir semua pekerjaan manusia setiap harinya menggunakan jasa Komputer.
Peran komputer dalam dunia pendidikan sangat pesat, salah satu contohnya dalam kegiatan belajar, kita bisa mengakses materi melalui jasa internet kita bisa belajar sendiri mencari informasi atau menggali ilmu. Internet  sudah sangat erat kaitannya dengan manusia, hampir semua orang setiap harinya mengakses internet, baik untuk mencari pelajaran atau hanya sekedar untuk bisa berkomunikasi dengan dunia maya.
Bicara tentang peran komputer dalam pembelajaran matematika, saya di sini akan sedikit mengartikan atau memberi sedikit gambaran tentang peran atau untuk apa saja sih manfaat komputer itu dalam Pendidikan Matematika. Sebagai calon guru saya harus menguasai komputer terlebih dahulu untuk membantu pekerjaan saya ketika saya sudah menjadi guru.
Peran komputer dalam Pendidikan Matematika itu sangat banyak. Yaitu kita ambil yang pertama dahulu tentang Microsoft Word, semua orang pasti mengenal Microsoft Word tapi tidak semua orang tahu semua fungsi yang ada di dalam Microsoft Word jika kita tidak belajar dan ngulik. Microsoft Word adalah program computer pengolah kata, di dalam Microsoft Word banyak sekali fungsi yang dapat di gunakan dalam pembelajaran matematika seperti dalam membuat tabel statistika kita bisa menggunakan Chart, dan dalam membuat angka atau simbol-simbol dalam matematika kita bisa menggunakan Equation atau Symbol. Selain itu komputer juga membantu dalam penyimpanan data dan lain-lain.
Aplikasi yang ke-dua yaitu Microsoft Excel, Microsft Excel adalah aplikasi program pengolah angka, yang dalam pembelajaran matematika sangat penting digunakan yaitu untuk mengetahui nilai rata-rata kelas, dan mengatur semua yang berhubungan dengan angka atau membuat tabel.
Yang ketiga yaitu Microsoft Powerpoint, Micosoft Power Point adalah aplikasi yang sering digunakan untuk mempresentasikan hasil diskusi atau dalam pembelajaran sering digunakan oleh guru sebagai media untuk menjelaskan pengajaran.
Aplikasi lain yang tentang pembelajaran matematika yaitu ada aplikasi Geogebra  dimana aplikasi ini adalah aplikasi khusus matematika yaitu berisi tentang gambar suatu grafik fungsi f(x) atau bisa juga untuk mencari nilai turunan atau integral dari suatu fungsi f(x).
             Nah begitu banyak ragam manfaat atau peran komputer dalam Pendidikan Matematika, seperti yang kita ketahui bahwa computer itu sangat banyak manfaatnya dalam membantu semua pekerjaan manusia, dari yang kecil atau yang paling kompleks menggunakan jasa komputer.

Tuesday, October 7, 2014

Makalah TEORI BELAJAR KOGNITIF VYGOTSKI dan TEORI HUMANISME

Makalah TEORI BELAJAR KOGNITIF VYGOTSKI dan TEORI HUMANISME

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Sejauh ini kita sudah banyak mengenal teori-teori belajar yang di terapkan oleh beberapa ahli untuk mempermudah kita sebagai calon guru dalam menerapkan materi bahasan kita kepada calon murid kita kelak, dan diantara teori-teori belajar itu ada yang bernama TEORI BELAJAR KOGNITIF VYGOTSKI dan TEORI HUMANISME.Dan kedua teori belajar inilah yang akan kami coba bahas dalam makalah yang kami susun ini.
Teori belajar kognitif vygotski ini dikenalkan kepada dunia olehLev Vygotsky (1896-1934) seorang psikolog berkebangsaan Rusia, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang sejalan dengan teori sosiogenesis.Artinya, pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial di luar dirinya. Hal ini tidak berarti bahwa individu bersikap pasif dalam perkembangan kognitifnya, tetapi Vygotsky juga menekankan pentingnya peran aktif seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Maka teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut dengan pendekatan kokonstruktivisme. Maksudnya, perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga oleh lingkungan sosial secara aktif pula.
Sedangkan Teori Humasisme menurut (Sadulloh; 2008) adalah sebagai berikut “Peran guru dalam pembelajaran humanisme adalah menjadi fasilitator bagi para peserta didiknya dengan cara memberikan motivasi dan memfasilitasi pengalaman belajar, dengan , menerapkan strategi pembelajaran yang membuat peserta didik aktif, serta menyampaikan materinya pembelajaran yang sistematis”. Sesuai dengan definisi diatas jadi aplikasi teori humanisme lebih menonjolkan kebebasan setiap individu siswa atau siswi memahami materi pembelajaran untuk memperoleh informasi/pengetahuan baru dengan caranya sendiri, selama proses pembelajaran.dalam teori ini peserta didik berperan sebagai subjek didik, peran guru dalam pembelajaran humanisme adalah fasilitator.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Mempelajari Teori Belajar Kognitif Vygotsky
2.      Mempelajari kelemahan dan kelebihan Teori Belajar Kognitif Vygotsky
3.      Mempelajari Teori Humanisme
4.      Mempelajari kelemahan dan kelebihan Teori Humanisme

C.     TUJUAN PENYUSUNAN
1.      Untuk mengetahui Teori Belajar Kognitif Vygotsky
2.      Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan Teori Belajar Kognitif Vygotsky
3.      Untuk mengetahui Teori Humanisme
4.      Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan Teori Humanisme

D.    MANFAAT PENYUSUNAN
1.      Untuk mengetahui Teori Belajar Kognitif Vygotsky
2.      Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan Teori Belajar Kognitif Vygotsky
3.      Untuk mengetahui Teori Humanisme
4.      Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan Teori Humanisme









BAB II
PEMBAHASAN
A.    TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME VYGOTSKY
1.      Teori Belajar Kognitif Vygotsky
Menurut Lev Vygotsky (1896-1934) seorang psikolog berkebangsaan Rusia, perolehan pengetahuan dan perkembangan kognitif seseorang sejalan dengan teori sosiogenesis. Artinya, pengetahuan dan perkembangan kognitif individu berasal dari sumber-sumber sosial di luar dirinya. Hal ini tidak berarti bahwa individu bersikap pasif dalam perkembangan kognitifnya, tetapi Vygotsky juga menekankan pentingnya peran aktif seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuannya. Maka teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut dengan pendekatan kokonstruktivisme. Maksudnya, perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga oleh lingkungan sosial secara aktif pula.
Karya Vygotsky didasarkan pada pada tiga ide utama, yiatu : 
a.    intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka ketahui;
b.    interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual; dan
c.    utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajaran siswa.

2.      Konsep-konsep Teori Konstruktivisme Sosial Vygotsky
a.       ZONE OF PROXIMAL DEVELOPMENT
Vygotsky mengemukakan konsepnya tentang zona perkembangan proksimal (Zone Of Proximal Development), yiatu :
"the distance between the actual developmental level as determined by independent problem solving and the level of potential development as determined through problem solving under adult guidance, or in collaboration with more capable peers " (Fauzi, 2009).
Menurutnya, perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan ke dalam dua tingkat yaitu, tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri. Sedangkan tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika di bawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebayanya yang lebih berkompeten. Jarak antara keduanya, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial ini disebut zona perkembangan proksimal atau yang kita kenal dengan Zone of Proximal Development (ZPD). Konsep Vygotsky mengenai  ZPD dikemukakan oleh Yustiana (2002, Saomah, 2011).
Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada di dalam proses pematangan. Kemampuan-kemampuan ini akan menjadi matang apabila berinteraksi dengan orang dewasa atau berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih berkompeten.
Berpijak pada konsep zona proksimal, maka sebelum terjadi internalisasi atau sebelum kemampuan potensial terbentuk, anak perlu dibantu dalam proses belajarnya. Orang dewasa atau teman sebaya yang lebih berkompeten  perlu membantu dengan berbagai cara seperti memberikan contoh, memberikan feedback, menarik kesimpulan, diskusi, dan sebagainya dalam rangka perkembangan kemampuannya.


b.      KONSEP SCAFFOLDING
Teori Scaffolding pertama kali diperkenalkan di akhir 1950-an oleh Jerome Bruner, seorang psikolog kognitif. Dia menggunakan istilah untuk menggambarkan anak-anak muda dalam akuisisi bahasa.  Anak-anak pertama kali mulai belajar berbicara melalui bantuan orang tua mereka, secara naluriah anak-anak telah memiliki struktur untuk belajar barbahasa. Scaffolding merupakan interaksi antara orang-orang dewasa dan anak-anak yang memungkinkan anak-anak untuk melaksanakan sesuatu di luar usaha mandiri-nya. Cazden menyatakan bahwa “scaffolding sebagai kerangka kerja sementara untuk aktivitas dalam penyelesaian” (Budiningsih, 2008).
Konstruksi scaffolding terjadi pada peserta didik yang tidak dapat mengartikulasikan atau menjelajahi belajar secara mandiri. Scaffolding dipersiapkan oleh pembelajar untuk tidak mengubah sifat atau tingkat kesulitan dari tugas, melainkan dengan scaffolding yang disediakan memungkinkan peserta didik untuk berhasil menyelesaikan tugas.
Istilah scaffolding digunakan pertama kali oleh Wood, dkk (Budiningsih, 2008), dengan pengertian “dukungan pembelajar kepada peserta didik untuk membantunya menyelesaikan proses belajar yang tidak dapat diselesaikannya sendiri”. Pengertian dari Wood ini sejalan dengan pengertian ZPD (Zone of Proximal Development) dari Vygotsky. Peserta didik yang banyak tergantung pada dukungan pembelajar untuk mendapatkan pemahaman berada di luar daerah ZPD-nya, sedang peserta didik yang bebas atau tidak tergantung dari dukungan pembelajar telah berada dalam daerah ZPD-nya.
Larkin (Cahyono, 2010) menyatakan bahwa scaffolding adalah salah satu prinsip pembelajaran yang efektif yang memungkinkan para pembelajar untuk mengakomodasikan kebutuhan peserta didik masing-masing.
Penulis sendiri mendefinisikan scaffolding sebagai bantuan yang besar kepada seorang anak selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut untuk mengerjakan pekerjaannya sendiri dan mengambil alih tanggung jawab pekerjaan itu. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan menguraikan masalah kedalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.

3.      Prinsip-Prinsip Konstruktivisme
      Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
a.       Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri.
b.      Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar.
c.       Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah.
d.      Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
e.       Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa.
f.       Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan.
g.      mencari dan menilai pendapat siswa.
h.      Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.

      Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan.
4.      Ciri-Ciri Pembelajaran Secara Konstuktivisme
            Adapun ciri – ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah:
a.       Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenarnya.
b.      Menggalakkan soalan/idea yang dimulakan oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran.
c.       Menyokong pembelajaran secara koperatif mengambil kira sikap dan pembawaan murid.
d.      Mengambil kira dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide.
e.       Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid.
f.       Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru.
g.      Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran.
h.      Menggalakkan proses inkuiri murid melalui kajian dan eksperimen.

5.      Implementasi  Konsep ZPD dan Scaffolding  dalam Pembelajaran Matematika
Berdasarkan teori Zone of Proximal Development dari Vygotsky serta teori scaffolding dari Bruner, proses perubahan dari tahapan perkembangan aktual ke perkembangan potensial bisa terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara individu dengan individu lain yang mempunyai kemampuan lebih. Oleh karena itu, guru memegang peranan penting dalam menciptakan suasana pembelajaran yang dapat menunjang peningkatan pemahaman siswa sehingga siswa mampu mencapai perkembangan potensialnya. Ketika siswa telah mampu mencapai perkembangan potensialnya, maka siswa tersebut telah mampu berpikir matematika tingkat tinggi.
Setelah guru menyiapkan perencanaan pembelajaran dengan matang, selanjutnya guru mulai mengatur pelaksanaan kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran sebagai berikut:
a.    Kegiatan Awal
1)   Guru mengkondisikan siswa untuk siap memulai pembelajaran
2)   Guru melakukan apersepsi dan memberikan motivasi kepada siswa
3)   Mengajukan suatu konteks permasalahan
b.    Kegiatan Inti
1)   Setelah siswa memahami konteks permasalahan, kemudian siswa diberi lembar kegiatan
2)   Pada 15 menit pertama siswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan jawaban secara individual. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat menelaah permasalahan yang diajukan
3)   Kemudian ±25menit selanjutnya siswa diminta untuk menyelesaikan jawaban secara berkelompok heterogen (2-4 orang). Hal ini dimaksudkan agar anak dapat berinteraksi dan saling bertukar pemikiran. Secara tidak langsung dalam kegiatan ini intervensi dapat terjadi antara siswa dengan siswa lain di dalam satu kelompok. Disamping itu, guru juga dapat melakukan teknik scaffolding dengan tepat selama proses kegiatan.
4)   Perwakilan kelompok mempresentasikan hasil pekerjaan mereka
c.    Kegiatan Akhir
1)   Guru bersama siswa menyimpulkan materi yang dipelajari
2)   Guru menutup pembelajaran
d.   Penilaian
Penilaian prestasi aspek kognitif dilakukan melalui pemberian pre tes dan pos tes yang harus dikerjakan oleh siswa pada awal tindakan dan akhir pelaksanaan tindakan. Penilaian prestasi belajar aspek afektif pada pembelajaran ini dapat dilihat dari kegiatan siswa ketika bekerja sama di dalam kelompok, keaktifan di dalam kelpmpok serta keberanian bertanya dan menjawab.

6.       Kelebihan dan Kekurangan Teori Belajar Vygotsky
a.       Kelebihan
1)      Anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proksimalnya atau potensinya melalui belajar dan berkembang.
2)      Pembelajaran perlu lebih di kaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya daripada tingkat perkembangan aktualnya.
3)      Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya dari pada kemampuan intramentalnya.
4)      Anak diberi kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan procedural yang dapat digunakan untuk melakukan tugas-tugas dan memecahkan masalah.
b.      Kekurangan
1)      Dalam bahasan kekurangan atau kelemahan ini mungkin bisa kita lihat dalam proses belajarnya dimana peran guru sebagai pendidik sepertinya kurang begitu mendukung.

B.     TEORI HUMANISME
1.      Pengertian Belajar Menurut Teori Humanisme
Aplikasi teori humanisme lebih menonjolkan kebebasan setiap individu siswa/i memahami materi pembelajaran untuk memperoleh informasi/pengetahuan baru dengan caranya sendiri, selama proses pembelajaran. Dalam teori ini peserta didik berperan sebagai subjek didik, peran guru dalam pembelajaran humanisme adalah fasilitator.
Peserta Didik Dalam pembelajaran yang humanis ditempatkan sebagai pusat (central) dalam aktifitas belajar. Peserta didik menjadi pelaku dalam memaknai pengalaman belajarnya sendiri. Dengan demikian , peserta didik diharapkan mampu menemukan potensinya dan mengembangkan potensi tersebut secara memaksimal. Peserta didik bebas berekspresi cara-cara belajarnya sendiri. Peserta didik menjadi aktif dan tidak sekedar menerima informasi yang disampaikan oleh guru.
Peran guru dalam pembelajaran humanisme adalah menjadi fasilitator bagi para peserta didiknya dengan cara memberikan motivasi dan memfasilitasi pengalaman belajar, dengan , menerapkan strategi pembelajaran yang membuat peserta didik aktif, serta menyampaikan materinya pembelajaran yang sistematis (Sadulloh; 2008). Peran guru sebagai fasilitator adalah.
a.       Memberi perhatian pada penciptaan suasana awal pembelajaran,
b.      Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan sehingga meningkatkan peserta didik untuk mengikuti pembelajaran dengan cara menerapakan metode pembalajaran yang bervariasi,
c.       Mengatur peserta didik agar bisa berkomunikasi secara langsung secara aktif dengan antar teman selama proses pembelajaran,
d.      Mencoba mengatur dan menyediakan sumber-sumber untuk belajar yang palin luas dan mudah dimanfaatkan para peserta didik untuk membantu mencapai tujuan mereka,
e.       Menempatkan diri sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan peserta didik baik secara individu maupun kelompok (guru dijadikan tempat untuk bertanya peserta didik tanpa peserta didik merasa takut),
f.       Menanggapi dengan baik ungkapan-ungkapan didalam kelompok kelas dan menerima baik isi yang bersifat intelektual (tidak penuh dengan kritikan sehingga memotifasi peserta didik untuk mengekspresikan diri),
g.      Bersikap hangat dan berusaha memahami perasaan peserta didik ( berempati) dan meluruskan dianggap kurang relevan dengan cara yang santun,
h.      Dalam pembelajaran secara kelompok , dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam kelompok dan mencoba mengungkapkan perasaan serta pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan atau ditolak oleh peserta didik,
i.        Sebagai seorang manusia yang tidak selalu sempurna , guru mau mengenali, mengakui dan menerima keterbatasan-keterbatasan diri dengan cara mau dan senang hati menerima pandangan yang lebih baik dari peserta didik.

2.      Aplikasi Teori Belajar Humanistik dalam Kegiatan Pembelajaran
Teori humanistik sering dikritik karena sukar diterapkan dalam konteks yang lebih praktis. Teori ini dianggap lebih dekat dengan bidang filsafat, teori keperibadian dan psikoterapi dari pada bidang pendidikan, sehingga sukar menterjemahkannya ke dalam langkah-langkah yang lebih konkret dan praktis. Namun karena sifatnya yang ideal, yaitu memanusiakan-manusia, maka teori humanistik mampu memberikan arah terhadap semua komponen pembelajaran untuk mendukung tercapainnya tujuan tersebut (Budiningsih, 2008).
Lebih lanjut Budiningsih (2008) mengatakan bahwa teori humanistik akan sangat membantu para pendidik dalam memahami arah belajar pada dimensi yang lebih luas, sehingga upaya pembelajaran apapun dan pada konteks manapun akan selalu diarahkan dan dilakukan untuk mencapai tujuannya. Meskipun teori humanistik ini Masih sukar diterjemahkan ke dalam langkah-langkah pembelajaran yang praktis dan operasional, namun sumbangan teori ini amat besar. Ide-ide, konsep-konsep yang telah dirumuskannya dapat membantu para pendidik dan guru untuk memahami hakekat kejiwaan manusia. Hal ini akan dapat membantu mereka dalam menentukan komponen-komponen pembelajaran seperti perumusan tujuan, penentuan materi, pemilihan strategi pembelajaran, serta pengembangan alat evaluasi, ke arah pembentukan manusia yang dicita-citakan tersebut. Dalam prakteknya teori humanistik ini cenderung mengarahkan siswa untuk berpikir induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar.

3.      Kelebihan Teori Humanisme
a.       Bersifat pembentukan kepribadian,hati nurani,perubahan sikap,analisis terhadapfenomenasocial.
b.      Siswa merasa senang,berinisiatif dalam belajar.
c.       Guru menerima siswa apa adanya,memahami jalan pikiran siswa
d.      Suasana pembelajaran yang saling menghargai, adanya kebebasan berpendapat, kebebasanmengungkapkan gagasan.
e.       Keterlibatan  peserta didik dalam berbagai aktivitas di sekolah.
f.       Kemampuan hidup bersama (komunal-bermasyarakat) diantara peserta didik yang tentunyamempunyai pandangan yang berbeda-beda.

4.      Kekurangan Teori Humanisme
a.       Bersifat individual.
b.      Proses belajar tidak akan berhasil jika tidak ada motivasi dan lingkungan yangmendukung.
c.       Sulit diterapkan dalam konteks yang lebih praktis
d.      Peserta didik kesulitan dalam mengenal diri dan potensi-potensi yang ada pada diri mereka.KelebihanDalam pembelajaran pada teori ini, siswa dituntut untuk berusaha agar lambat laun mampumencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.












BAB III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Teori Vygotsky sebenarnya lebih tepat disebut dengan pendekatan kokonstruktivisme. Maksudnya, perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga oleh lingkungan sosial yang aktif pula. Ada 2 konsep penting dari teori Vygotsky yaitu, Zone Of Proximal Development dan konsep Scaffolding.
Teori Humanisme adalah teori yang memberikan kebebasan pada individu memahami materi pembelajaran untuk memperoleh informasi/pengetahuan baru dengan caranya sendiri, selama proses pembelajaran. Dalam teori ini peserta didik berperan sebagai subjek didik, peran guru dalam pembelajaran humanisme adalah fasilitator.
B.   SARAN
Proses pembelajaran yang diberikan oleh guru harus sesuai dengan tingkat perkembangan potensial siswa. Siswa seharusnya diberikan tugas yang dapat membantu mereka untuk mencapai tingkat perkembangan potensialnya.









DAFTAR PUSTAKA

Asri, Budiningsih. 2012. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Prof. Dr. H. Syamsu LN., M.Pd. 2007. Teori Kepribadian. Bandung: Rosdakarya.
Prof. Dr. Suyono., M.Pd. 2011.  Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep
Belajar. Bandung: Rosdakarya.